Minggu, 20 Desember 2015

Cerita Tak Karuan

Waktu sore kuhabiskan dengan duduk santai di teras catur untuk sekedar mencari ketenangan dan menikmati senja yang mulai tua. Sesekali terdengar suara anak-anak tertawa ceria, sesekali juga terlihat anak-anak sedang berlari ke sana ke mari, bermain petak umpet, dan bersepeda. Bahagia mereka begitu sederhana bukan? Ya.

Terkadang aku ingin kembali seperti mereka, seperti anak kecil. Mereka selalu saja tertawa girang, penuh canda ria, sesekali usil kemudian bertengkar dan pada akhirnya tetap saja mereka saling memaafkan. Bisakah aku kembali ke masa tersebut? Tentu tidak. Lalu bagaimana caraku agar dapat berbahagia sederhana? Simple, cukup menghitung apa yang masih kumiliki dan kemudian mensyukurinya (walau pada kenyataannya tetap saja tak mampu kuhitung), dan jikalau aku merasa letih, maka aku hanya perlu mencukupkan keletihanku ke dalam istirahat yang cukup. Ya begitulah, urip kui mung piye carane lek nyikapine.

Setidaknya aku masih dapat meneladani sifat-sifat baik mereka, karena sifat-sifat mereka adalah sifat air yang selalu mengalir. Bisa kau bayangkan bila air itu tidak mengalir, ia akan mampet dan menyebabkan banjir, pendendam, dan anak kecil tak memiliki itu. Kau pun harus memahami satu hal bahwa dalam hal meneladani ataupun belajar, kau bisa saja meneladani yang lebih muda ataupun belajar kepada yang lebih muda. Tak masalah. Buang saja egomu itu jauh-jauh.

Jika kau orang yang dewasa atau katakanlah orang tua, maka tugasmu adalah untuk membimbing anak kecil yang serba ingin tahu, bahwa kau harus tahu jika anak kecil itu mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Tugasmu sebagai orang dewasa ataupun orang tua bukan untuk melarangnya, melainkan mengarahkannya. Dikhawatirkan, bila kau melarangnya (membatasi rasa ingin tahunya), ketika anak kecil itu sudah tumbuh dewasa, ia akan takut untuk mencoba hal-hal lain yang ingin diketahuinya.

“Ngomong-ngomong, apa kabar waktu soremu, wahai wanita penunggu senja?” Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku, dan kemudian aku diam. Ya, aku lebih banyak diam, dan kau perlu tahu satu hal bahwa diam bukan berarti aku tak mencintaimu. Dalam diam aku senantiasa memikirkanmu, dan memandang dari kejauhan adalah cara terbaiku untuk mencintaimu, karna kesabaranku tak cukup untuk membuatmu percaya dan tak cukup membuatmu sadar.

“Hey! Ngelamun terus.”

Aku kaget. Hampir jatuh dari kursi. Aku hendak naik pitam, tapi untuk apa? Tanpa angin, tanpa hujan, dan tanpa diduga-duga sepupuku pulang dari petualangannya menyusuri pantai-pantai yang berada di Gunung Kidul, Yogyakarta. Akhirnya kuputuskan untuk tidak jadi naik pitam, kuputuskan untuk mengganti raut wajahku dengan raut wajah ramah dan mimik wajah yang terlihat begitu senang tatkala bertemu dengan seseorang yang dirindunya. Setelah itu kami bercakap-cakap sekedarnya.

Senja akhirnya hilang, berganti dengan gelapnya malam. Kubergegas pergi ke kamar mandi. Mengambil handuk, mengisi ulang sabun cair, dan membawa seperangkat alat mandi lainnya. Air terasa dingin. Tubuhku merasa segar. Kepalaku yang sebelumnya terasa berat mulai terasa ringan.

“Sudah mandi?” Sepupuku bertanya.

“Sudah. Air di sini terasa menyegarkan.” Aku menjawab.

Adzan Maghrib terdengar, lirih. Kubergegas pergi ke masjid. Sengaja tak memakai peci. Agar orang lain menganggapku liberal, agar orang lain tahu bahwa seorang muslim liberal pun tetap shalat ber-jama`ah, agar orang lain mengerti bahwa muslim liberal bukanlah orang yang harus dimusuhi. Demi nama manusia yang memanusiakan manusia lainnya.

Ritual ibdadah pun akhirnya selesai. Kukembali menuju kediaman. Sepupuku mengajak makan sego megono. Aku dan sepupuku pergi keluar, mencari sego megono. Demi sego megono, aku dan sepupuku harus rela menerjang hujan dan dinginnya angin yang berhembus riung. Namun tak apa, karena setiba di lokasi lidah langsung dimanjakan mendoan dan pelbagai makanan khas Pekalongan (walau rasa tak bisa bohong) beserta kehangatannya. Tak tahukah kau, bahwa menunggu santap makan malam yang berupa sego megono di pinggiran jalan sembari menikmati hilir lalu-lalangnya kendaraan adalah salah satu dari sekian banyak cara menikmati kehidupan di kota rauntauan?

Makan pun selesai. Aku dan sepupuku kembali ke kediaman. Setiba di kediaman, gegas kuambil buku, belajar sebentar. Aku hampir lupa kalau malam ini di pondok ada jadwal ujian. Ujian pondok? Ya. Sekelas mahasiswa masih hidup di pondok? Tentu saja. Kaum sarungan adalah bagian dari hidupku, dan jujur saja, aku tak bisa hidup jauh-jauh dari kaum sarungan (adat dan tradisi kaum sarungan itu keren tahu). Ya, bagiku kaum sarungan adalah pendidikan terbaik yang dimiliki oleh dunia, bagaimana seorang kyai dengan keikhlasannya mampu mentransfer nilai-nilai hidup dan kehidupan. Inilah kami "pesantren" dengan mengedepankan panca jiwa yang ada, langka dicari, susah di dapat dan mahal harganya.

Setibaku di kelas ujian, ternyata ujian malam ini ada delapan soal, dan semua kujawab (bahkan kulebihkan menjadi sembilan). Yakni berupa satu jawaban serius, empat jawaban agak serius, tiga jawaban tidak serius, dan kutambah satu buah untaian kata sebagai berikut; "Tuhanku, sudah seyogyanya bila aku bersyukur kepada-Mu, bahkan bukan hanya aku melainkan kami semua manusia. Semoga engkau kami senantiasa berada dalam kasih-Mu, selaras dengan semesta, menolongantar sesama, dan senantiasa menebarkan cinta kasih dan welas asih."

Ya begitulah. Aku seringkali bertindak ring-rong alias kurang umum bagi khayalak. Bagiku ujian sama halnya seperti permainan. Walau aku tak bisa memainkannya, kuanggap asyik saja. Walau aku tak bisa menjawabnya, biar saja. Hal yang terpenting adalah kau harus percaya bahwa ada potensi tersembunyi yang tidur dalam dirimu. Tugasmu adalah mencari potensi apa yang terpendam dalam dirimu dan membangunkannya. Cepat atau lambat, potensi itu pasti bangkit. Jangan kau buat sia-sia potensi yang ada pada dirimu. Masalahmu mungkin memang tak bisa diselesaikan secara langsung, tetapi suatu saat masalahmu pasti terselesaikan. Kau sendiri harus paham bahwa masalah bukan untuk menguji seberapa mampu kau bertahan terhadap gempuran-gempuran kehidupan, atau seberapa banyak kau memiliki kekuatan, melaiankan untuk memberikan kau waktu dan kesempatan, untuk melatih kedewasaan dan mengambil kebijaksanaan dalap bersikap, yang tertuang dalam kehidupan ruang dan waktu dengan sikap yang tentu patut ditiru, selaras dengan semesta.

Jangan pernah berputus asa, selagi kau berusaha, kau pasti mencapai tujuamu. Namun, jika kau memutuskan untuk menyerah, maka pada saat itu pula kau memutuskan untuk tidak dapat apa-apa. Hingga ajal merenggut nafasmu nanti, jangan pernah menyerah, jangan pernah berhenti berproses. Jatuh bukanlah sesuatu yang memalukan, yang memalukan adalah jika kau jatuh namun kau memutuskan untuk tidak berdiri lagi. Perlebarlah cara pandangmu dan bagaimana tindakanmu jauh ke depan, niscaya akan banyak hal yang dapat kau lakukan. Jika kau bodoh dalam satu pelajaran, belum tentu kau bodoh dalam pelajaran lainnya. Jika kau bodoh dalam matematika, belum tentu kau bodoh dalam keilmuan agama. Jika kau bodoh dalam fisika, belum tentu kau bodoh dalam keilmuan hermeneutika. Itu sudah lumrah, kan?

Nah, untuk kau dan kau yang sudah merasa pintar, saranku, tak perlu memandang rendah kebaikan orang lain dengan membandingkan kebaikan dirimu. Kau juga tak perlu menganggap orang lain lebih bodoh dibanding dirimu. Ketahuilah bahwa saling memandang kebaikan tanpa merendahkan itu indah, saling berprasangka baik dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukan sesama adalah salah satu cara agar dapat selaras dengan semesta.

Kau pun harus mengerti, bahwa dalam ruang kelas, atau dalam strata pendidikan, kau boleh saja lebih tinggi, lebih tua, atau lebih dulu tahu dalam jenjangan waktu. Namun, jangan pernah kau merasa lebih pintar. Karena rasa akan kepintaranmu itu suatu waktu akan menjadi bumerang ataupun bom waktu masa depanmu.

Aku memang tidak memiliki kekuatan hafalan kuat seperti para penghafal al-Qur'an, juga tidak memiliki kecerdasan luar biasa seperti para generasi turunan umat Yahudi, dan tidak pula memiliki keluasan kebijaksanaan seperti para filsuf. Tetapi aku berusaha lebih keras dibanding lainnya. Aku seperti seorang murid yang dekat dengan gagal dan jauh akan pintar. Tetapi selalu meninjau kembali, memeriksa, memperbaiki, dan merevisi di setiap ujian dan berujung baik di akhir.

Ya begitulah santri, kaum sarungan. Tak tahukah kau, bahwa jalan hidup santri adalah kesejatian menapaki jalan hidup ini? Okay, aku akan bercerita panjang lebar, karena pada hakikatnya aku memang sedang bercerita tak karu-karuan. Cerita ini pada mulanya dimuat di laman situs santrijagad.org yang berjudul; “Bang Idin, Santri Tebiureng Jawara Lingkungan.”

Namanya Haji Chaerudin, beliau lahir pada tanggal 13 April 1956. Beliau seorang tamatan SMP yang memulai penjelajahannya di Kali Pesanggrahan pada 1989. Saat itu ia bertualang selama lima hari enam malam, menyusuri Kali Pesanggrahan ke hulunya di Kaki Gunung Pangrango sejauh 136 km dengan berjalan kaki atau berakit batang pisang.

Ia mencari tahu apa saja yang masih tersisa di sepanjang aliran kali. Pohon apa saja yang tak lagi tegak, satwa apa saja yang lenyap, ikan apa saja yang minggat, dan mata air mana saja yang alirannya tersumbat. Usahanya dimulai dengan membersihkan sampah. Langkah awal ini ternyata tidak mudah.

Syahdan, berkat kesabaran dan tekad kuat, lambat laun, kesadaran juragan-juragan tanah yang membangun pagar beton tinggi hingga ke bantaran kali mulai tumbuh. Bang Idin kemudian juga mengajak teman-temannya sesama petani penggarap untuk mengikuti langkahnya.

Kini, mereka berhasil menanam 40 ribuan pohon produktif di sepanjang bantaran kali. Burung-burung yang dulunya pergi akhirnya kembali. Mata air yang dulu tertutup sampah, kembali hidup. Air kali Pesanggrahan kini sudah normal kembali. Ikan-ikan bisa hidup dan berkembang biak.

Hal yang paling utama, si Jampang Penghijau ini tidak hanya sekadar merehabilitasi dan melakukan konservasi alam, tetapi juga berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar bantaran kali sehingga mereka bisa hidup dari kegiatan bertani dan beternak.

Pohon produktif, seperti melinjo, kelapa, dan durian bisa dipanen. Demikian juga sayur-mayur yang ditanam di bantaran kali. Sementara pembibitan ikan juga bisa dilakukan di air yang jernih. Sebagian lahan bantaran kali juga digunakan untuk berternak kambing etawa. “Penyelamatan alam itu harus punya nilai kehidupan,” usungnya.

Hasilnya sungguh luar biasa. Area seluas 40 hektar, membentang sepanjang tepian Kali Pesanggrahan, menjadi ijo royo-royo. Burung-burung berkicau setiap hari. Bahkan burung cakakak yang bersarang di tanah dan sudah jarang ditemui di wilayah lain di Jakarta, kini juga bisa ditemukan. Pohon-pohon yang mulai langka di Jakarta, seperti buni, jamblang, kirai, salam, tanjung, kecapi, kepel, rengas, mandalka, drowakan, gandaria, dan bisbul dapat dijumpai di sini. Belum lagi tanaman obat yang jumlahnya mencapai 142 jenis.

Tentang Islam dan lingkungan, ia berpendapat; “Tak boleh kita bicara ‘kebersihan sebagian dari iman’ tapi sampah di selokan masjid masih dibiarkan. Taqwa ‘kan tak bisa diartikan dari satu sudut saja. Mengapa sampah-sampah itu tidak kita bereskan, ditampung, diolah, dibikin sesuatu, jadi bermanfaat, tak perlu menunggu presiden, gubernur, camat. Taqwa itu luas. Orang muslim sejati itu bak tawon, tidak merusak justru menebar manfaat, tapi kalau diganggu pantang mundur. Tapi sekarang, berbeda sedikit, main bakar masjid. Alasannya ‘laa ilaaha illallaah’, sadis betul. Kalau saya, berpedoman ‘laa ilaaha illallaah’, apapun mazhabnya itu urusan Tuhan. Kita pengucap syahadat tak boleh berlaku dzalim.”

Ia menambahkan, "Saya di Pesantren Tebuireng dua tahunan, sekitar tahun tujuh puluh dua. Saya datang ke sana dan pulang tanpa disuruh siapapun. Di sana, saya menimba air buat wudhu di masjid. Kalau yang lain baca kitab di malam hari, saya tidur karena kecapekan. Kakek saya teman Kiai Hasyim Asy’ari semasa perang. Kekaguman saya kepada beliau membuat saya mengaji ke Tebuireng. Beliau juga dahulu berjuang dalam pertanian, itulah yang saya ikuti. Saya tidak pandai baca kitab, tapi bisalah mengaktualkan apa yang saya tahu. Setidaknya kita punya nilai, meskipun cuma setitik embun di padang pasir. Saya tidak ada cita-cita nanti bagaimana, apalagi cari beken. Mengalir saja seperti air di sungai, begitu sifat santri."

Jadi, masih ragukah kau untuk menempuh jalan hidup yang seperti ini? []


Yogyakarta, 13 Desember 2015

Petapa Duka

Di keheningan, di saat malam semakin menampakkan kepekatannya, aku terduduk diam di anak tangga. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Kubuka telepon genggan, kosong. Kubuka kembali, kosong. Ya begitulah, berulangkali aku membuka telepon genggam tetap saja kosong.

Angin segar menyapa kulitku, menggigil. Kuambil sebatang rokok (lalu kuhisap dalam), habis. Kuambil lagi (masih kuhisap dalam), habis. Ya begitulah, berulang kali kuambil rokok dan habis kuhisap dalam.

Suasana dingin membuat perutku lapar. Kupergi ke warung. Bingung. Aku tak tahu hendak memesan apa. Perutku lapar, tapi mulut dan lidah menolak dengan sangar. Mulut dan lidahku terasa kaku. Ujung-ujungnya kuputuskan kembali dengan lapar yang semakin menjadi-jadi.

Barangkali benar apa yang pernah dikatakan seorang pujangga, bahwa ada hal terpenting yang kita tahu, pelajaran pertama yang kita pelajari. Tapi rasa lapar, bisa dengan mudah diatasi, dengan mudah terpuaskan. Ada paksaan yang lain, rasa lapar yang berbeda, rasa haus yang tak terpuaskan yang tak bisa dihentikan. Kehadirannyalah yang mendefinisikan kita, yang menjadikan kita manusia. Paksaan itu adalah "cinta". Dengan kata lain, rasa laparku adalah rasa lapar yang berbeda, dan rasa lapar itu bernama "cinta".

Cinta, adalah satu paksaan yang tak bisa dijelaskan, tak bisa dipecah menjadi proses kimia. Ia adalah mercusuar yang menuntun kita kembali pulang, saat tak ada satu pun di sana dan cahayanya menerangi rasa duka kita. Ketidakhadirannya merampas semua kesenangan kita, merampas kemampuan kita untuk bersukacita. Membuat malam kita semakin gelap dan siang kita menjadi mendung. Tapi saat kita menemukan cinta, tak peduli seberapa salah, sedih atau mengerikan, kita berpegang padanya. Ia memberi kita kekuatan. Ia menggenggam kita dengan tulus. Ia makan dari kita dan kita makan dari dia. Cinta adalah anugerah kita. Cinta adalah kehancuran kita.

Akan tetapi, bilamana cinta paksaan, maka mengapa ia kau sebut sebagai mercusuar yang menuntun tuk kembali pulang? Adakah kepulanganmu sebuah keterpaksaan? Ah, aku tak paham. Aku terlalu bodoh untuk mengerti dan memahami rasa lapar bernama cinta. Apakah ini yang dinamakan kerinduan? Ah, entahlah.

Cinta bertahta diatas segala garis, bersila diatas segala mungkin. Cinta itu rumit bila didefinisikan. Akan tetapi, bagaimana jika ia hanya kata? Cinta. Ah, mungkin memang seperti itulah cinta. Ah, aku terlalu banyak berkata-kata. Siapa yang tahu kapan cinta akan datang menyapa dan kapan cinta akan pergi meninggalkan luka? Tanpa tanda dan tanpa syarat, kadang perasaan tersebut membuncah muncul dari dalam hati. Baik itu karena pandangan pertama, sentuhan yang lama, maupun karena merasa memiliki perasaan yang sama. ‎Sungguh indah rasa bernama cinta, lebih indah dari untaian kata pembawa berita. Ah, lagi-lagi aku terlalu banayk berkata-kata.

Tenggorokanku terasa kering. Kuambil segelas air putih (lalu kuteguk), segar. Kuambil lagi (lalu kuteguk lagi), segar. Ya begitulah, barangkali tiada minuman yang lebih sehat lagi menyegarkan selain air putih.

Kepalaku terasa berat. Pikiranku terasa suntuk. Kuambil sebuah buku, kucoba membaca dan menelaahnya, gagal. Kuambil buku lain, dan kucoba lagi untuk membaca dan menelaahnya, gagal. Berulangkali kuambil buku, kumenggantinya dengan buku lain, mencoba membaca dan menelaahnya, namun berulangkali itu juga aku gagal.

Tiba-tiba terdengar suara, suara yang tak asing bagi telingaku, suara dari sanubariku sendiri. Suara itu berkata; "Sudah menjadi takdirmu untuk hidup dalam nestapa, wahai petapa duka!"

Aku membisu. Berpura-pura tidak tahu dari mana suara itu berasal. Aku gelisah. Tak tahu harus berbuat apa. Apakah aku sedang terlunta-lunta karena cinta? Ah, aku bukan lagi anak kecil. Lalu kenapa? Ah, barangkali memang benar bahwa sudah takdirku sebagai petapa duka untuk hidup dalam nestapa.

Akhirnya, kupergi  ke kamar mandi. Menyikat gigi, berwudlu. Kembali ke kamar. Mengganti celana dengan sarung, mengganti baju kaos dengan kemeja panjang, memakai peci, menggelar sajadah, dan bersandar kepada-Nya.

"Ilahi, pinjamkanlah kekuatan-Mu kepada hamba-Mu ini, kekuatan untuk menata puing-puing emosi yang ada dalam diri ini menjadi rumah kebahagiaan sejati!"

Kuhabiskan sisa malamku dengan senandung sunyi dan selimut keheningan. Lambat tapi pasti, alunan kisah perlahan melantun dan mengayunkan angan kenangan. Membaur bersama hati yang semakin lama semakin tenggelam dalam ringkihnya kesendirian. Aku berpangku tangan. Tiba-tiba airmata meleleh, isak tangis kemudian menggebu. Lelah. Airmata tetap menetes. Pasrah. Tak terasa isak tangis telah berhenti, namun rasa gundah semakin menjadi-jadi.

Aku menyemedikan hati untuk mendapatkan kesunyian di tengah keramaian, agar di mana  pun aku berada senantiasa dapat berenung tenang. Hati yang setebal benteng pertahanan perlahan tembus. Jiwa yang sekeras batu perlahan runtuh. Bersama malam, kulukiskan segala keindahan dan pegantar sejuta harapan.

 "Ilahi, kerana aku ada atas sukma satu-Mu, kabulkan rinai gerimis tangisku. Sebelum bumi terkotak-kotak asa, dan langit hilang dari pandangan."

Embun-embun membeku. Entah kenapa untuk malam yang tanpa alasan canduku datang begitu saja. Ketika aku berbagi mimpi kepada pekatnya malam di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, yang menguap oleh asa dan buku-buku, yang menguap bagai candu yang kuhirup. Pada selasar angin dan hujan, pada rimba dan rumput-rumput dibebukitan, bagi jiwa yang redup, yang melewati batas-batas sadarku.

“Kembalilah untuk selaras dengan semesta. Jangan terlarut romantisme masa lalu.” Lagi-lagi terdengar suara, dan suara itu memecah kesunyian. Tak asing bagiku untuk mencari dari mana suara itu berasal. Menjaring langit merogoh bumi. Dekat ataupun jauh tak lagi bisa ditebak. Ah, mungkin memang sudah semestinya seperti itu, sudah semestinya bila kesepian senantiasa membangkitkan kenangan. Indah. Memabukkan. Bulir-bulir air mengalir dari telaga. Senja berganti malam. Polos dalam ketenangan. Sirnalah semua mimpi. Ingkarlah semua janji. Tinggallah Sunyi. Sendiri. Sepi.

Setelah aku mengira telah mendapatkan apa yang kubutuhkan, kulipat sajadah, kutanggalkan peci, dan aku pergi ke luar kamar. Kuberbaring di hamparan luas. Di langit-langit malam, bulan terlihat purnama. Terang. Indah. Begitu indah. Seketika itu juga dalam hatiku terdetik sebuah asa. Lagi, kulayangkan langkah menuju puncak kenikmatan nyata.

Setapak demi setapak kutelusuri jalur rumah-Nya. Hampir waktunya kuraih. Hati kecil berteriak halus; "Bersediakah kau, bertunai peristiwa yang maha penting, yang begitu langka kau temui sepanjang hidupmu sebelum atau sesudah waktumu?"

Aku sentuh dinginnya air suci. Lagi, kuhamparkan sajadah dan aku terlarut dalam lautan kasih-Nya. Tentram. Aku semakin hanyut. Oh, rasanya aku tak mau kehilangan malam yang penuh keheningan, syahdu yang menyejukkan. Malam ini menyirami jiwaku yang begitu kotor. Damai.

Oh malam, kau selalu saja dapat membiusku hingga terjaga akan penantian keheningan syahdu haru sendu membiru, yang masih beradu padu desahkan nafas. Nafsu, cumbu, merayu, meragu, malu-malu. Pada cadas penuh luka, menistakan jiwa-jiwa suci yang penuh daki membasi.

Bukan kehangatan yang diberikan olehnya, bukan pula kasih tulus yang ditawarkan olehnya. Tetapi kedinginan yang menusuk sumsum tulang, membeku di sudut ruang. Tak satupun yang mengerti. Tak satupun yang memahami. Sembilu yang menyayat hati. Kini semakin kuat. Menorehkan binatang bernama perih dan sakit. Bersama kabut yang menyelimuti malam. Tenggelam dalam dinginnya kepalsuan. Membisu seribu makna. Terbungkus rapi dalam kotak pandora. Tersamar oleh semaraknya cahaya makhluk penghuni langit malam. Terabu-abukan oleh kabut yang menyelimuti kolong buana.

“Ilahi, keindahan malam-Mu tiada pernah terganti. Ketenangan ini, dingin ini, dan apa-apa yang di langit itu membuatku ingin selalu dekat-Mu, izinkan aku bersujud di bumi-Mu, menyerukan pujianku atas ciptaan dan kuasa-Mu. Ilahi, dekaplah aku selalu dalam pelukan-Mu, terjatuh dan gagal itu pasti, tetapi beri aku kekuatan kembali untuk berdiri dan berlari. Ilahi, aku seperti debu yang begitu kecil ketika aku menatap besarnya dunia milik-Mu, kuharap untaian-untaian do`a yang kupanjatkan bisa tersampai kepada-Mu, di antara ribuan bahkan jutaan untaian-untaian do`a dari seluruh manusia di muka bumi, aku hanyalah manusia yang penuh dengan nista dan berlumur dosa, yang hanya mampu bersujud dan meminta pada-Mu. Sesungguhnya hati ini milik-Mu yaa Rabb.” []


Wahid Hasyim, 13 Desember 2015

Kopi Sepanjang Hari

Andaikata aku kehabisan kata itu berarti aku kehabisan inspirasi, dan andaikata aku kehabisan inspirasi itu berarti aku kehabisan kopi. Kopi adalah nafas, sehingga dari pagi hingga pagi lagi, walau hujan datang menerjang, walau terik matahari begitu menyengat, aku tetap saja berangkat ngopi, tetap saja kujalani. Namanya juga pecinta kopi, walau terkadang berefek sakit dan lain sebagainya, tak masalah. Ya, kira-kira begitulah cinta, tak peduli apapun akan tetap disongsong, dan memang tidak bisa dideskripsikan dengan cara akademis, kritis, estetis atau apalah namanya.

Dulu aku pernah beberapa hari hidup tanpa kopi. Kulakukan demi pemulihan tubuhku yang kurang fit. Ternyata rasanya begitu tersiksa. Rasa sakitnya melebihi rasa sakitnya patah hati, ketika kau terdiam dan membisu, kemudian segelintir ingatan menyerang pikiranmu. Bahkan, ia semakin menyakitkan ketika kau mencoba melupakannya, dan kau sendiri tak tahu harus lari ke mana atau tak tahu harus berbuat apa. Dengan kata lain, selama ini aku beralih ke kopi hanya untuk mencoba menyelami makna hidup, bahwa betapa pun getirnya hidup, kau akan tetap baik-baik saja.

Kopi selalu saja dapat memberi nasehat kepada para penikmatnya. Aku dan kopi adalah sebuah tautan cinta yang mana semua itu masuk dalam rasa (kehidupan) tersembunyi oleh alam ruhku dan ruhnya sudah menjalin sebuah cinta, sebelum Tuhan menciptakan lempungnya Adam. Nah, tatkala kopi telah diracik, diseduh dan dinikmati, pada saat itu sesungguhnya hari baru dimulai. Tak peduli jam berapa, tak perlu atas nama siapa, tak perduli bersekutu atau berserikat. Setiap langkah pun akan menunju ke masa depan.

“Lalu apa itu perencanaan?” Tanyaku dalam diam.

“Hey, jangan serius-serius!” Temanku datang menegur dengan nada bercanda.

“Oh iya. Aku hanya berpetualang di alam pikir kok.” Aku menyanggah.

“Nah, di alam pikirmu itu kau menjadi liar, menjadi serius.” Temanku balik menyanggah.

“Haha... Seruput dulu kopinya, biar waras.” Aku tertawa getir, dan menawarkan kopi.

“Okay.” Jawab temanku ringkas.

Setelah menyeruput kopi, aku kembali terdiam dalam lamunan tak bertuan. Temanku benar. Selama ini aku selalu membiarkan diriku melalang buana, mencari idealisme yang ada di alam pikirku. Pengalaman, pikiran, dan lamunan, kesemua itu menjadi satu ketika aku mulai gelisah, dan aku selalu mencoba mencari jalan keluarnya, meskipun sampai kini aku masih belum mendapatkan jawabannya.

“Bahkan hermeneutika saja tidak cukup untuk memahami hatinya.”

Temanku yang tadi menegurku ternyata sedang bergelut asmara berkata. Aku terdiam, kawanku menatapku penuh harap menanti tanggapan. Aku sruput kopi yang masih panas itu, kunyalakan korek, kubakar gulungan tembakau, lalu berkata-kata kotor.

“Lantas, kau hendak memahaminya dengan apa lagi?” Aku balik bertanya.

“Entahlah. Padahal hermeneutika adalah alat cara yang cukup canggih untuk memahami sesuatu. Dalam bidangnya, bisa jadi anda tahu saya tetapi anda tidak memahami saya. Memahami berbeda dengan hanya mengetahui. Repotnya, terasa rumit ketika aku mencoba mendalaminya. Aku sudah mencoba mengetahui dirinya, sikapnya, dan prilakunya, tetapi hingga kini aku masih belum bisa memahami isi hatinya. Haha...” Temanku memberi penjelasan lebih, dan tertawa.

Jujur saja, aku sendiri sedang mengalami hal serupa temanku. Hampir setiap malam, diam-diam ada seorang perempuan dengan senyum manisnya nyelonong datang tanpa pamit, tanpa ketok pintu batok kepala. Ia hanya hadir padaku begitu saja. Kemudian aku mempersilahkan kehadirannya dengan senang hati dan suka rela. Tak tahukah kau, ini jam berapa? Aku tak tau juga. Hanya saja ini waktu bagi manusia melepas lelah, payah, lalu memejamkan mata. Dan Sepertinya aku pernah menjumpainya sekali secara nyata dan belum bisa mengenali dia seutuhnya. Tapi mengapa ia hadir secara tiba-tiba?

Ah, sudahlah! Meskipun ia nyata, ia hanya hadir secara maya. Mungkin ini insiden "Antara Ada dan Tiada" dalam judul dan lirik lagu yang dilantunkan Utopia. Hingga aku sadar, saat ini ia hanya bisa sebagai pengantar tidurku belaka (walau pada kenyataannya dari pagi hingga malam menyapa mataku tak kunjung terpejam pula).

Aku lalu membuang jauh pandanganku. Pada bambu penyanggah atap warung kopi itu terdapat figura tanpa gambar, bukan lukisan, melainkan sebuah tulisan. "Aku secangkir kopi saja, tanpa gula, Aku tak terlalu suka pemanis untuk hal-hal yang memang dikodratkan pahit."

“Apa maksudnya?” Lagi-lagi aku bertanya dalam diam. “Barangkali apa adanya itu memang labih baik dari daripada memunafikkan diri sebelum ada luka dikemudian hari.” Aku mencoba meyakinkan pendapatku dengan cara yang sederhana.

Di warung kopi beragam kisah yang sering dibincangkan namun susah untuk disuratkan dapat ditemukan. Teman-temanku menyebutnya (warung kopi) dengan istilah "madrasah cinta", dan lewat madrasah cinta inilah aku gali kisah-kisah hingga aku lupa bahwa muka sudah terbanjiri oleh air kecut yang mendadak meluap basah. Lewat madrasah cinta pula kubangun puing-puing persaudaraan meski roda kehidupan terus berputar dengan semaunya. Saat ini, pagi buta yang tak lagi hening tersusup kepalsuan yang mementingkan citra hingga ada patokan tuk harga diri.

Sejurus kemudian, temanku yang lainnya datang. Kali ini ia tampak berbeda dengan kumis dan janggutnya yang lebat. Terus terang saja, temanku yang satu ini adalah orang yang paling tua dari segi umur dibanding teman-temanku lainnya. Temanku ini pernah bermukim di kota-kota di Indonesia, mulai dari kota asalnya Jepara, Jakarta, Kediri, hingga Yogyakarta. Aku biasa memanggilnya dengan "Komandan Tua".

“Apa kabarmu? Cukup lama kita tak saling temu.” Komandan Tua bertanya dan berbasa-basi.

“Seperti biasa, sibuk menata hati hingga tertata sedemikian rapi.” Jawabku lengkap.

“Haha... Dari dulu kamu itu tak pernah berubah, gagal move on.” Komandan Tua tertawa.

Aku ikut tertawa. Temanku yang sedang kalut asmara juga ikut tertawa. Perbincangan menjadi hangat, bahkan setiap detiknya semakin hangat. Rokok-rokok dibakar, ampas kopi yang telah habis dijadikan kreasi seni batik di kertas rokok. Rokok dan kopi habis. Pesan lagi, dan tertawa kembali. Semua itu terus saja terulang di warung kopi, dan tak akan dapat ditemukan di tempat-tempat lain.

Tiba-tiba, tanpa angin, tanpa hujan dan tanpa diduga-duga Komandan Tua berkata, “War is Over, If You Want it.” Seketika itu pula perbincangan yang sebelumnya hangat berubah menjadi suasana serius dengan raut wajah antusias.

“John Lennon di sisa hidupnya pernah berkata seprti itu, "War is Over, If You Want it." Memang tidak bisa dipungkiri bahwa semua manusia ingin hidup damai (life in peace), semua orang dalam kewajarannya pasti berharap hal demikian bersemayam dihidupnya, hidup damai tiada pertengkaran, peperangan, rukun damai sejahtera. Akan tetapi semua hal itu tidak bisa hanya sekedar sebagai impian, mimpi dalam buaian. Oleh karenanya setelah kata "War is Over", John Lennon melanjutkannya dengan kalimat, "If You Want it" (jika kamu menginginkannya), karena disisi lain, pertengkaran, peperangan itu ada proses panjang dalam keterjadianya, dan di dalam proses itu manusia bisa memilih di antara dua pilihan, melanjutkan keinginan untuk bertengkar/berperang atau keinginan untuk tidak meluapkan keinginan untuk berperang, hanya dua pilihan itu. Kelihatanya enteng, tapi jika diselami dalam beberapa kasusnya, pemilihan antara dua pilihan itu sangat delematis.” Jelas Komandan Tua.

“Terhadap segala keadaan dan pristiwa, sejatinya pertengkaran/peperangan tiada bagus-bagusnya, jika diperankan orang dewasa ia terlihat seperti anak-anak kembali. Ketika kesadaran menghampiri, pertengkaran menyisakan penyesalan yang tiada henti, karena ketika manusia bertengkar/berperang sejatinya seketika itu ia sedang tercabut dari kodrat kejiwaan manusianya yang suci yang selalu merindu damai abadi. War Is Over, If You Want it!” Pungkas Komandan Tua.

Pagi yang hangat dan sebentar lagi akan panas menyengat. Awan memberat menyimpan debit air hujan yang tak kunjung tumpah ruah. Hanya satu cara yang dapat menumpahkannya, yakni dengan doa. Berdoa dan berharap dapat menyobek mendung yang menyimpan hujan, agar bumi dibasahi rahmat. Sudah cukup tanah disiram darah, sudah cukup belahan bumi ditanami yatim yang kehilangan orang tuanya atau orang tua yang kehilangan anaknya, sudah cukup ladang ditanami gedung mewah gagah namun congkak lagi sombong. []


Yogyakarta, 08 Desember 2015

Dialog Bisu

Aku sendiri berteman sepi, di malam menjelang pagi dengan irama sunyi. Suara jangkrik terdengar. Dentingan jam penanda waktu melambat. Kebanyakan manusia telah larut di dalam mimpi. Namun tidak bagiku. Bagiku, di suasana inilah masa permenungan paling tepat bagi setiap insani yang hidup di muka bumi untuk mensiasati kehidupan alam fana ini. Ya, walaupun dalam permenunganku lebih sering membuka lembaran luka-luka yang ada di masa lalu, dan menjadikannya mengharu biru.

Apa kabarmu? Kurang lebih 2 tahun sejak terakhir kali kita bertemu di tempat itu dan kini aku sangat ingin bertemu denganmu. Ya, sebatas menyediakan punggungku untuk menjadi tempatmu bersandar, melepas keluh-kesah yang menjadikanmu gelisah, atau sekedar menyediakan tanganku untuk mengusap bulir airmatamu yang tak terbendung oleh sang waktu. Ah, betapa cinta begitu mendera.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Nafasku sesak, tangan dan kakiku terasa sangat berat. Rasanya, ini bukan tubuhku sendiri. Pikiranku sudah sangat lelah. Otakku seolah dilempar sesuatu hingga terasa akan pecah. Sampai-sampai aku tak tahu, keadaan apa ini? Apakah ini rasanya bila kau tak mampu berdamai dengan sang waktu sedang kau selalu diburu rindu? Tak tahukah kau? Bahwa aku selalu harus rela bertahan dengan keadaan ini dalam tempo waktu yang tak menentu. Ya, untuk sekedar melepas rindu, ternyata waktu hanya diam membisu dan tak mau berdamai denganku. Sedu dan sedan bergabung menjadi satu. Isak tangis menggebu jatuh dalam bulir air mataku. Aku pun hanya bisa melihat dan memperhatikanmu sebatas gambar balutan potret yang kucuri dari akun media-sosialmu.

"Hai waktu, bisakah kau berdamai denganku, untuk melepas rindu yang mengendap di dadaku, terhadap sosok di kejauhan yang sekelebat bayangnya menari-nari di benakku?" Tanyaku dalam diam.

"Wahai saudaraku! Aku bisa saja berdamai denganmu, dengan catatan jangan pernah kau pergi meninggalkanku sendiri. Setialah kepadaku. Hargailah aku." Jawab sang waktu.

"Bagaimana mungkin aku tak meninggalkanmu, sedang kau terus berlari tanpa pernah mau menunggu? Bukankah berdamai kepada waktu cukuplah berdamai kepada waktu, bukan untuk pergi ataupun tinggal?" Aku mengejar jawaban.

"Kalau begitu aku tak mau berdamai denganmu. Biarlah umurmu habis karena terus menerus memikirkan sosok yang kau rindu, yang mengisi malam-malam panjangmu dengan helaan nafas panjang pula, yang mempersilahkan sekelebat bayangan muncul di pelupuk matamu, yang menari-nari, yang berlari-lari tanpa mau pergi. Habislah kewarasanmu, memikirkannya." Ucap sang waktu.

"Bagaimana mungkin kau tak mau berdamai denganku? Bukankah kau sendiri ada yang memiliki? Apakah kau melupakan penciptamu, Sang Paduka Alam Raya?" Aku kembali mengejar jawaban.

"Kalau begitu baiklah. Terserah kau hendak melakukan apa. Aku serahkan kembali semuanya kepada pemilikku. Dekati saja pemilikku, mungkin saja Dia akan bermurah hati kepadamu." Gumam sang waktu

Aku benci mengakuinya, tetapi apa yang sang waktu katakan ada benarnya. Aku mungkin memang benar-benar tak akan mampu berdamai dengan sang waktu untuk rebah dalam dekapanmu, untuk rebah dalam dekapan rindu, karena bisa jadi aku terlalu terburu-buru. Aku seolah melupakan satu kebijaksaan sederhana, bahwa apa yang aku anggap baik belum tentu baik bagiku, begitu pula sebaliknya. Aku seolah melupakan-Nya, melupakan asma-Nya, melupakan kasih sayang-Nya. Aku harus kembali mendekati Sang Paduka Alam Raya, agar aku semakin tahu bahwa Sang Paduka Alam Raya amat sayang padaku. Tetapi, ah betapa bodohnya aku. Sudah tahu itu salah, namun tetap saja dilakukan. Sudah tahu apa yang harus kukerjakan, namun tetap saja aku ingkar.

"Hai waktu, aku bisa saja mendekati penciptamu. Namun aku sadar bahwa kaulah sang waktu, kaulah sang masa di mana kehidupanku berada. Ialah masa muda dan masa tua. Masa muda yang akan berbuah kemuliaan, yang tidak akan ditemukan di masa tua." Aku membantah.

"Tetapi sebelum itu, aku telah lama tahu bahwa kau pernah memiliki sosok yang menguatkan dan menerima dirimu apa adanya, yang kini pergi meninggalkanmu dengan luka yang menganga lebar. Aku tahu bahwa hari-harimu selalu sepi tanpanya. Aku tahu bahwa di setiap jejak langkahmu selalu hadir bayangannya. Aku juga tahu bahwa terkadang kau meneteskan airmata untuknya, tatkala orang yang kau puja melepaskan dirinya dari bayang-bayangmu, dan memberikan cintanya kepada orang lain selain dirimu. Saranku, kau tak perlu merasa gusar. Cukuplah bagimu untuk merasa tak apa. Berat memang, namun percayalah bahwa kau harus bangkit. Jangan hanya menghitung apa yang hilang darimu. Hitunglah apa yang masih kau miliki. Bukankah kau masih memiliki keluarga yang senantiasa memperhatikanmu dari kejauhan sana? Bukankah kau mempunyai adik-adik kecil yang begitu bangga dengan kakaknya? Pahamilah, niscaya bahagia akan menyapamu dengan segenap tulusnya." Jelas sang waktu.

Aku terkejut. Ternyata sang waktu tahu apa yang selama ini kututup dalam diam. Kali ini aku tak bisa lagi ingkar, karena apa yang dikatakan sang waktu adalah kebenaran. Aku tak bisa menyangkal kebenaran. Harus kuakui, bahwa selama ini hari-hariku berlalu dengan membosankan, hidupku seolah hilang karena usang. Tak ada rintangan, tak ada tantangan, pun tak ada kedisiplinan. Tak tersisa tanpa kesan, tanpa harapan dan sebuah pesan. Semua itu terjadi karena kebodohanku. Aku yang selalu ingkar, tahu akan suatu hal tetapi berpura-pura tidak tahu, tahu harus berbuat apa tetapi tetap saja tidak beranjak dari tempat duduk, dan tahu harus beralih tetapi tetap saja berdiam diri.

"Terimakasih waktu, kau telah menyadarkanku. Kau mengajarkanku akan pelbagai hal, yakni aku harus siap sedia mewakafkan diri untuk masyarakat, berkutat langsung dengan kehidupan nyata dibanding kehidupan maya, mengambil pelajaran dan kebijaksanaan di balik fenomena yang ada, meneguhkan hati yang terang karena lapang, senantiasa dekat dengan ilmu atau orang yang berilmu di setiap waktu, dan tentu saja, tidak menganggap diri lebih dari yang lainnya. Dengan asma Sang Paduka Alam Raya, semoga dapat menemukan kebahagiaan sejati, ialah membahagiakan orang lain." Aku berkata kepada sang waktu.

Waktu kemudian pergi entah ke mana.

"Mas, sudah shalat subuh?" Suara adik tingkatku membuyarkan lamunan tak bertuanku.

"Oh, sudah adzan ya?" Aku berusaha mnyesuaikan diri.

"Hehe... Barusan adzan kok. Mas dari tadi ngelamun aja sih." Adik tingkatku tersenyum.

"Ya seperti biasanya." Aku pun tersenyum, pergi mengambil wudlu, dan shalat subuh.

Padahal sedari tadi aku menunggu waktu subuh tiba, dan ternyata waktu subuh telah tiba, suara adzan pun telah berkumandang tanpa aku sadari. Mataku masih belum terpejam. Aku masih terjaga. Pertanda bahwa aku butuh waktu yang tepat untuk memejamkan mata, walau hanya sesaat, walau hanya sekali lewat, atau membiarkan kepala semakin memberat, pikiran semakin serat, dan sembilu semakin menyayat.

Namun, aku seringkali melakukan hal-hal yang jarang terlintas di benak pikir manusia pada umumnya. Alih-alih istirahat, malah pergi ke warung kopi. Mencopot sarung, menggantinya dengan celana. Melepas kemeja, menggantinya dengan kaos oblong. Beres-beres sekedarnya. Mensakukan dompet, mengambil kunci rantai, membuka rantai sepeda, mengeluarkannya, dan menggowesnya dengan santai.

Di persimpangan jalan, aku terhenti. Tatkala menyaksikan secara langsung keindahan langit. Langit hitam yang sedari malam mulai menampakkan kepekatannya, perlahan berganti dengan langit biru. Pelbagai warna mewarnai pergantian ini. Bulan terlihat separuh. Matahari mulai terlihat di ufuk timur. Rona hijau di langit yang jarang diketahui manusia begitu jelas terlihat oleh mata telanjangku. Sinar jingga perlahan naik bersama pesona kemerahan. Ah, beruntung sekali aku dapat menyaksikannya di ranah perantauanku ini. Aku berjanji untuk mencoba berusaha menyaksikannya lagi. Sebanyak mungkin.

Sepeda kembali kugowes. Jalanan masih sepi. Hanya satu-dua mobil, dan beberapa penggowes sepeda sepertiku yang menguasai jalan. Terlihat seorang manusia sedang berjalan-jalan dengan anjing peliharaannya. Berjalan-jalan sekedarnya, seadanya karena cinta. Tak terasa aku telah sampai di warung kopi.

"Pesen apa Cak?" Tanya penjaga kasir warung kopi.

"Biasa, kopi kotok agak manis." Aku menjawab.

"Okay Cak." Penjual kopi menyanggupi.

"Aku duduk di depan ya." Aku mengindikasikan tempat duduk.

Langit cerah. Kepekatan malam hilang. Di depanku terlihat sepasang kekasih. Mereka saling berbagi canda tawa. Sekilas terlihat, mereka tampak serasi. Perempuan berkacamata dan laki-laki tinggi sebagai penjaganya. Kuperhatikan dengan seksama. Tangannya si lelaki perlahan membelai rambutnya yang lurus. Lalu perempuan itu mengeluarkan sesuatu, laki-laki itu juga. Rokok, mereka membakarnya, dan menghisapnya. Habis. Beberapa saat kemudian mereka pulang bersama. Ah, hal yang seperti itu sudah biasa ada di kota besar. Kau tak perlu heran dibuatnya.

Aku mengeluarkan buku bacaan. Membacanya sebentar sembari menunggu kopi datang diantar. Mencoba mengambil inti sarinya, mencoba mengambil pelajaran dan kebijaksanaan yang ada dalam di buku. Sekilas tentang buku, ia adalah sang saksi bisu dari peradaban yang bermutu. Aku pernah dibuat kalang kabut ketika buku-buku yang biasa bertengger di lemariku tak ada seperti sediakala. Anehnya, banyak pula buku-buku yang bukan bukuku bertengger di lemariku. Apakah ini sebuah cerita saling tukar-menukar buku antar satu orang dengan orang lainnya? Buku-bukuku banyak yang tak ada, dan banyak pula buku-buku bukan milikku yang ada dalam lemariku. Lalu, bagaimana dengan semua itu?

Akhirnya aku merelakan buku-buku yang biasa bertengger di lemariku tak ada seperti sediakala. Dengan syarat, buku-bukuku bermanfaat bagi khayalak pada umumnya dan ada yang berkenan membacanya. Toh sebagai gantinya ada buku-buku lain yang bertengger di lemariku. Namun jangan salah sangka, aku tak kan mengklaim apa yang bukan milikku, bila ada yang merasa buku miliknya bertengger di lemariku, silahkan diambil saja. Karena aku memahami perasaan buku, yang senantiasa merindukan pembacanya (terlebih dari pemiliknya yang berulangkali membacanya dan yang senantiasa menjaganya).

Aku pribadi berpendapat bahwa bacaan buku itu lebih menggoda dan seksi guna membuka lembaran-lembaran kebodohan yang ada dalam diri. Melebihi godaan perempuan seksi yang tawarkan kenikmatan dan kepuasan diri. Pun, ketenangan itu ada ketika bersanding dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Buku-buku yang terus bercerita kepadaku sembari terus membuka kebodohan-kebodohan yang ada dalam diriku tanpa mau mengenal waktu. Aku pun hanya bisa menjawab buku dengan kata "Owh iya ya."

Aku tak rela bila ada buku yang berserakan tak terurus. Aku sangat menghormati buku, karena buku adalah jendela ilmu. Dengan membaca buku akan banyak ilmu yang didapat, akan banyak hal yang dapat diketahui, dan akan bertambahnya wawasan serta kebijaksanaan dalam diri, yakni menjadi lebih bijak dalam menanggapi atau menghadapi pelbagai persoalan hidup.

Tak salah bila orang mengatakan bahwa orang bijak adalah orang yang banyak membaca. Membaca apa yang terjadi dalam hidup ini sehingga dia menjadi orang berilmu. Orang berimu biasanya akan menjadi orang yang arif bijaksana. Sebab melihat segala permasalahan kehidupan dari berbagai sudut yang telah diketahuinya, dan mungkin inilah yang dimaksud dengan, “Reading books makes you better”.

Selain itu, membaca buku yang diawali dari halaman pertama sampai dengan halaman terakhir hingga tamatlah buku yang dibaca itu "istimewa". Bagaimana tidak, pada halaman pertama, kita dapat membaca dan mengetahui latar belakang penulisan buku yang dibaca, tepatnya kenapa buku yang dibaca itu ditulis. Lebih dari itu, ketika sampai pada halaman terakhir, kita dapat membaca dan mengetahui seorang author (penulis) buku yang dibaca itu.

Dengan begitu, setidaknya kita mendapat pengetahuan lebih di samping isi kandungan dari buku yang dibaca. Walau tertatih dan terlunta saat membaca buku yang dibaca, tak masalah. Toh itu merupakan bagian dari proses pemahaman yang kemudian diharapkan dapat berbuah sikap kebijaksanaan bahwa kita ini sejatinya memang tidak tahu apa-apa. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Socrates; "Satu hal yang aku tahu, bahwa aku tak tahu apa-apa."

Kopiku akhirnya datang. Masih panas. Kuangkat tutup cangkir. Kucium dalam aroma khasnya. Perlahan kutuangkan ke dalam mangkuk cangkir, dan kuseruput. Kopi hitam kental nan pekat, darinyalah sumber inspirasi, pelajaran dan kebijaksanaan kudapat.

Matahari terbit. Kawan-kawanku mulai berdatangan ke warung kopi, pergi ke penjaga kasir, memesan kopi, membeli rokok, lalu kami mulai bercanda ringan, mulai tertawa bersama-sama, mulai terbahak-bahak. []


Yogyakarta, 07 Desember 2015

Selamat Pagi

Matahari perlahan terbit, pancaran kehangatan sinarnya mulai menyapa. Kelembapan udara, sisa-sisa embun di dedaunan, di pepohonan lekas mengering. Awan-awan membiarkanku menarik matahari, mengajaknya bercengkrama dengan waktu yang cukup lama, membawa kehangatannya masuk ke dalam relung sukma. Sang mentari pun tak lupa tersenyum pagi ini. Senyum yang sama setiap hari. Senyuman manis beserta kehangatannya. Senyuman pembawa pelangi. Senyum yang selalu dapat kupinjam. Senyum tanpa paksaan. Senyum yang membuat para pejuang tetap hidup. Berlari-lari, menari-nari, hingga tertawa bersama sepanjang hari. Dengan sagup payup aku berdiri, dan terhuyung.

“Sepertinya aku darah rendah.” Ucapku dengan nada lemas.

“Coba periksa darah, Mas!” Adik tingkatku mencoba memberi saran.

“Mungkin juga kurang motivasi cinta.” Aku menolak saran, mencoba bercanda.

“Haha... Bisaan aja Mas.” Adik tingkatku tertawa.

Ini adalah pagi yang indah, pagi yang istimewa. Ketika aku terbangun dari kealpaanku untuk kembali terjaga, dengan canda tawa sederhana.  Gegas kamar mandi kutuju, membasuh muka dengan air yang menetes dingin, menggerak-gerakkan badan, berjalan sekedarnya, menyalakan rokok (lalu kuhisap dalam), menggerang air, memasak mie instant, dan menyeduh kopi.

Tak tahukah kau? Semacam ini yang kusuka, bahwa aku tetap dapat menjadi diriku sendiri di tengah-tengah kehidupan yang penuh dengan kebohongan dan penuh dengan kesandiwaraan ini. Banyak orang di luar sana yang berpura-pura baik, demi mengincar kekuasaan tertinggi. Banyak orang di luar sana yang berpura-pura peduli, demi mengincar kehormatan dalam negeri. Banyak orang di luar sana yang saling berdebat, saling menunjukkan kelebihan-kelebihan diri yang tanpa sadar juga menunjukkan ego dan kesombongan pribadi. Ah, kesemua itu barangkali memang sudah menjadi tabiat manusia.

Bagaimana tidak? Setelah dipilih, dihujat. Setelah dihujat, dipilih lagi. Kapan mau belajar? Apakah pantas seseorang dipagut kalajengking dari satu lobang sampai dua kali? Terlalu banyak yang pandai berbicara tentang hidup berbangsa dan bernegara yang baik, tetapi lupa bagaimana caranya hidup bertetangga dan bermasyarakat yang baik. Terlalu banyak yang ingin beranjak dari kemiskinan tetapi senantiasa membawa rasa malas. Terlalu banyak yang ingin hidup damai tanpa adanya permusuhan, tetapi senantiasa membawa sifat iri. Terlalu banyak yang membicarakan kopi, tetapi lupa cara menikmatinya.

Pemimpin dipilih sendiri, kecewa sendiri dan marah-marah sendiri. Wakil Dewan juga dipilih sendiri, diolok-olok sendiri, dicibir sendiri dan dimaki sendiri. Barangkali memang sudah nasibnya menjadi bangsa kelas nomor tiga. Dihuni orang-orang yang tak mau belajar tapi semangat dan tak kunjung belajar pula. Benarlah kata orang bijak; “Pemimpin yang dipilih oleh rakyat adalah cerminan dari rakyat itu sendiri.”

Hanya dengan uang puluhan ribu, idealisme dan nurani bisa terbeli. Dengan iming-imingan duniawi sudah tergadai harga diri. Belajar dari pengalaman itu penting! Hanya keledai yang masuk lubang kedua kali. Tetapi tak mungkin begitu banyak orang di luar sana keledai semua. Benar juga kata orang bijak; “Kalau orang baik diam, yang menang dan berkuasa adalah orang-orang jahat dan tidak baik.”

Biarkan saja apa itu MKD, apa itu Freeport, apa itu korupsi. Biarkan saja semua tambang dan tetek bengeknya dicaplok, biar puas. Para koruptor silakan korupsi sepuasnya. Bumi pertiwi tak kan habis menyediakan segala hal berupa moril dan materil bagi para penghuninya. Tak percaya? Coba tengok sejarah, Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang ratusan tahun menguras kekayaan negeri, yang sampai sekarang juga belum habis. Orde lama, orde baru, hingga orde yang paling baru juga ikut mengeruk pun tidak akan pernah habis.

Kiamat masih jauh. Biarkan saja semua. Biarkan saja para koruptor yang masih bisa makan tiga kali, bangun tidur masih sempat juga bikin kopi, kebal-kebul menikmati pagi. Di setiap malamnya pun masih bisa terjaga dengan tenang.

Bagaimana dengan keadilan? Heleh... Keadilan itu hanya khayalan dan mimpi belaka. Bila tak tercapai ya sudahlah, namanya juga cita-cita. Kalau mau keadilan yang sebenar-benarnya keadilan ya nanti, sabarlah. Masih ada akhirat. Lalu bagaimana dengan kesejahteraan? Kalau mau kesejahteraan ya cari saja kesejahteraan sendiri-sendiri, kesejahteraan masing-masing. Jangan manja seperti bayi kecil yang baru lahir. Sejahtera itu relatif, di negeri ini sejahtera dalam takaran terminimal adalah masih bisa ketawa-ketiwi, bersenda-gurau, setidaknya sama sependeritaan. Tak perlu bingung.

Sejarah akan mencatat siapa yang benar dan siapa yang salah, walau salah dan benar itu hakikatnya tidak ada. Semua hanya berperan dalam peranya masing-masing, netepi lelaku. Biar-biarkan saja. Begitulah peran, macam-macam, beraneka ragam.

Mungkin juga bila kita harus kembali ke ajaran nenek moyang kita, harus berhenti mengeluh dan mengkritik, alias kita harus memilih berjuang, berjuang dan terus berjuang sampai dengan hembusan nafas terakhir kita. Jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah, jangan pernah menyerah!

Berjuang yang sepeti apa? Setiap orang punya perjuangannya masing-masing. Porsinya pun berbeda-beda. Standar paling minimal adalah berjuang memberantas kebodohan, ego diri dan kesombongan pribadi, alias menata hati hingga tertata sedemikian rapi.

Terlepas dari itu semua, setidaknya bahagiaku sederhana. Setidaknya aku tak perlu menjadi detektif kurang kerjaan, yang tanpa dibayar senantiasa menelusuri kesalahan-kesalahan orang lain. Setidaknya aku tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menyusahkan diri sendiri, yang meletakkan kebahagiaannya di tangan orang lain. Setidaknya aku tidak menjadi orang yang sebodoh itu! Tak perlu berlagak menjadi "talisman" (orang yang mengatur), jikalau kau tak serius, atau sekedar bermain-main. Karena itu dapat menjadikan kau orang yang lalai tapi sadar, atau menjadikan orang lain yang berusaha jatuh bangun di akar rumput menjadi orang yang sama denganmu, menjadi orang yang sebegitu menyedihkannya dirimu.

Akankah datang suatu hari di mana semua orang sadar bahwa mereka memiliki kapal yang sama untuk sampai di dermaga? Bukan hanya sebagai penumpang yang ingin menikmati fasilitasnya saja, dan bisa berkata bahwa ia pernah naik kapal itu. Akankah akan tiba suatu masa di mana semua orang sadar bahwa nahkoda bukan hanya orang yang selalu melulu memerintah, tetapi juga berkenan mendengar pelbagai keluh kesah penghuni kapal airnya? Semoga hari esok lahir pemimpin-pemimpin yang tidak hanya bisa memerintah, tetapi juga turut ikut serta dalam suatu titah.

Selamat pagi selamat pagi dunia, selamat pagi semua, selamat pagi para saudara, selamat pagi Sumatera, selamat pagi Papua, selamat pagi Jawa, selamat pagi Kalimantan, selamat pagi Sulawesi, selamat pagi Bali dan wilayah tengah, selamat pagi Nusantara, selamat pagi para pejuang, selamat pagi cinta, dan selamat pagi para pemimpi! []


Warung Kopi Mato, 06 Desember 2015

Selaras Dengan Semesta

Tatkala terik matahari begitu menyengat, tetes keringat mengalir deras dan rasa lapar yang serasa tak tertahankan, aku pergi ke kantin, suatu tempat yang kuanggap sebagai tempat yang istimewa, yang dapat memberikan rasa nyaman dan pas untuk kembali menata pikiran yang urakan nun tak karuan.Ya, sekedar mencari tempat teduh, mendinginkan benak dan mengobati rasa lapar.

"Loteknya ada Bu?" Aku bertanya.

"Ada Mas." Sang Ibu Kantin menjawab.

"Berapaan Bu?" Kembali aku bertanya.

"Rp. 6000 Mas." Jawab Sang Ibu Kantin.

Kurogoh sakuku, kuambil dompetku, lalu aku mengernyitkan dahi. Ternyata, uang yang ada di kantungku hanya tersisa Rp. 11.000, yang bilamana aku membelinya (membeli lotek), berarti uangku akan tersisa Rp. 5000 (mengingat ini masih awal bulan). Namun tak apa.

"Ada uang Mas?" Tanya Sang Ibu Kantin.

"Ada kok Bu." Jawabku dengan senyum.

"Kalau gak ada, gak apa mas. Ibu bayarkan." Sang Ibu Kantin menawarkan." Ibu beneran kok Mas." Pungkas Sang Ibu Kantin.

"Ada kok Bu. Ini, Rp. 10.000." Aku menjawab pertanyaan Sang Ibu Kantin, mengeluarkan uang yang tersisa di dompetku, yang sekaligus sok gaya menolak bantuannya.

"Hehe, iya Mas. Lagian kalau habis tinggal narik di ATM, kan?" Sang Ibu Kantin tertawa dengan penuh canda ria. Sedang aku hanya dapat kembali memgernyitkan dahi.

"Gimana, udah wisuda?" Sang Ibu Kantin kembali bertanya, dan aku hanya bisa menjawab dengan helaan nafas panjang dan untuk kesekian kalinya, aku mengernyitkan dahi.

Percakapan pun selesai. Kusalami Sang Ibu Kantin, kucium punggung telapak tangannya, dengan catatan Sang Ibu Kantin mengingatkanku kepada sosok Uwak di kejauhan sana, dan Sang Ibu Kantin pun menganggapku sebagai anak angkatnya.

Selesai, tapi `ibrah dan natijah belum selesai. Pelajaran dan kebijaksanaan yang dapat diambil adalah; "Di mana pun kau berada, jangan pernah lupa untuk menolong orang lain, menebarkan senyum kepada orang lain. Senyum adalah investasi. Senyum mampu menjadikan pribadi hebat, dan  senyum dapat menciptakan kualisasi diri. Tersenyum, menegur, ataupun menyapa adalah hal-hal sederhana, namun efeknya luar biasa. Sekurang-kurangnya, kau memandang dunia dan sesisinya, manusia dan kehidupan bersama dengan `ainur rahmah (mata yang penuh dengan cinta kasih dan welas asih). Jika kau melakukan kesemua itu, atau setidaknya salah satu darinya, niscaya kau tak akan pernah tersesat di tengah carut-marut dunia. Karena selalu ada orang-orang yang menginginkan kau tetap ada, merindukan jasad dirimu, dan senantiasa menolongmu tatkala kau berada dalam posisi terhimpit dan terjepit."

Ya begitulah kiranya hidup, selaras dengan semesta. Ketika kau selaras dengan semesta, kau akan merasa seperti mengapung di air. Jika kau menolaknya, kau akan tenggelam. Jika kau pasrah (menerima segala ketetapan dengan lapang dada, dengan hati terbuka dan penuh cinta), kau akan disangga air dan kau akan mengapung. Seperti itulah rasanya, dan begitulah kau menyelaraskan diri dengan semesta. Lepaskan ketegangan dan mengapunglah! []


Pojok Kantin UIN Su-Ka, 03 November 2015

Cerita Lama

Dalam hidupku, aku pernah merasakan apa yang mereka sebut dengan istilah "sempurna". Namun semua sirna, ketika apa yang kuanggap sempurna justru suatu waktu menusuk sukmaku. Tetapi karena itulah, kini aku menemukan kesejatian sempurna, bahwa tidak sempurna itulah, aku sempurna sebagai manusia.

Dengan kata lain, ketidaksempurnaan itulah kesempurnaan. Maka ketika sudah mafhum menjadi sempurna, tidak ada lagi kesempurnaan karena ketidaksempurnaan sudah tidak ada. Ketika ketidaksempurnaan itu ada, maka itulah kesempurnaan sejati.

Barangkali serupa dengan sebuah potret kamera yang background-nya berantakan––katakanlah blur––seolah menunjukkan bahwa begitulah memang sebenarnya kehidupan, samar dan tidak sempurna. Barangkali begitu pula dengan suatu hubungan, samar dan tidak sempurna. Namun, justru hal-hal yang samar dan tidak sempurna itulah yang membuat "sepasang burung merpati" saling tertarik, saling melengkapi, dan mencoba untuk saling bertahan. Sebab begitulah kesempurnaan, terbentuk dari hal-hal yang tidak sempurna.

Ah, aku terlalu banyak berkata-kata. Tetapi memang permenungan seperti ini seringkali membuatku tersadar atas kegamanganku. Kegamangan menjadikanku berfikir dan hendak berujar; “Hitamnya kopi tak sehitam dosa diri. Pekatnya malam tak sepekat hati ini. Namun, jangan pernah berhenti berproses. Walau berada di ruang ampunan tak berujung.”

“Dosamu sepekat kopi nak.” Pangkas temanku.

“Sepekat kopi? Bahkan lebih.” Aku menjawab pangkasan temanku.

“Kopi di dalam gelas pun menyimpan dendam.” Temanku kembali memangkas.

“Dendam? Meskipun pahit tetap dinikmati.” Kembali aku menjawab.

Hening. Aku diam. Temanku bungkam. Temanku yang satu lagi telah bisu sedari awal. Masih Hening. Aku masih diam. Temanku pun masih bungkam. Temanku yang satu lagi tetap bisu. Keheningan berlanjut. Beberapa saat kemudian suaraku memecah keheninganku dan teman-temanku; “Selalu ada harapan, bagi mereka yang berdo’a. Selalu ada jalan, bagi mereka yang berusaha.”

Teman-temanku tersenyum, lalu rokok-rokok disumut, kopi-kopi diseruput, aku dan teman-temanku pun akhirnya tertawa girang dengan candaan penuh riang alias mereka tak lupa untuk berbahagia.

Tempattah tempatteh, jelenah jeleneh (tempatnya tempati, jalannya jalani). []


Gunung Kidul, 21 Agustus 2015